Showing posts with label Teknologi Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Teknologi Pembelajaran. Show all posts
Wednesday, October 23, 2013
Saturday, October 5, 2013
HUMAN ENCAPSULATION [PART 3: ATENSI]
Posted on 1:13 AMby Unknown with No comments
Perhatian
merupakan suatu proses kesadaran langsung terhadap informasi (rangsang) yang
diterima untuk memutuskan suatu tindakan (respon). Perhatian merupakan proses
awal menuju pada sebuah konsentrasi, sehingga tidak akan terjadi konsentrasi
tanpa perhatian terlebih dahulu. Perhatian dan konsentrasi merupakan
serangkaian proses berkelanjutan terhadap suatu obyek yang diamati individu.
Atensi
atau perhatian adalah pemrosesan secara sadar sejumlah kecil informasi dari
sejumlah besar informasi yang tersedia. Informasi didapatkan dari penginderaan,
ingatan maupun proseskognitif lainnya. Proses atensi membantu efisiensi
penggunaan sumberdaya mental yang terbatas yang kemudian akan membantu
kecepatan reaksi terhadap rangsang tertentu.
Groover
menyebutkan bahwa faktor yang memengaruhi persepsi dan ingatan adalah perhatian
(attention). Perhatian merupakan aktivitas menjaga sesuatu tetap dalam pikiran
yang membutuhkan kerja mental dan konsentrasi. Terdapat 5 jenis perhatian,
yaitu:
a.
Perhatian
Selektif (Selective Attention)
Perhatian
selektif terdapat pada situasi dimana seseorang memantau beberapa sumber
informasi sekaligus. Penerima informasi harus memilih salah satu sumber
informasi yang paling penting dan mengabaikan yang lainnya. Faktor-faktor yang
memengaruhi perhatian selektif adalah harapan, stimulus, dan nilai-nilai.
Penerima informasi mengharapkan sebuah sumber tertentu menyediakan informasi
dan memberikan perhatian lebih pada sumber tersebut, memilih stimulus yang
paling memberikan efek atau terlihat dibanding yang lain, dan memilih sumber
informasi yang paling penting.
b.
Perhatian
Terfokus (Focused Attention)
Perhatian
terfokus mengacu pada situasi dimana seseorang diberikan beberapa input namun
harus fokus pada satu input saja selama selang waktu tertentu. Penerima
informasi berfokus pada satu sumber/input dan tidak terdistraksi oleh
gangguan-gangguan lain. Faktor yang berpengaruh terhadap perhatian terfokus
adalah jarak dan arah, serta gangguan dari lingkungan sekitar. Penerima
informasi akan lebih mudah menerima informasi dari sumber yang berada langsung
di depannya.
c.
Perhatian
terbagi (Divided Attention)
Perhatian
terbagi terjadi ketika penerima informasi diharuskan menerima informasi dari
berbagai sumber dan melakukan beberapa jenis pekerjaan sekaligus.
d.
Perhatian
yang terus menerus (Sustained Attention)
Perhatian
terus menerus dilakukan penerima informasi yang harus melihat sinyal atau
sumber pada jangka waktu tertentu yang cukup lama. Dalam situasi ini sangat
penting bagi penerima informasi untuk mencegah kehilangan sinyal.
e.
Kurang
perhatian (Lack of Attention)
Kurang
perhatian merupakan situasi dimana penerima informasi tidak berkonsentrasi
terhadap pekerjaannya. Situasi ini disebabkan oleh kebosanan/kejenuhan dan
kelelahan. Ciri-ciri pekerjaan yang dapat menimbulkan situasi kurang perhatian
adalah pekerjaan dengan siklus pendek, sedikit membutuhkan pergerakan tubuh,
lingkungan yang hangat, kurangnya interaksi dengan pekerja lain, motivasi
rendah, dan tempat kerja memiliki pencahayaan yang buruk.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perhatian
a. Faktor
internal (berasal dari dalam diri manusia)
·
Adanya ketertarikan terhadap obyek (rangsang)
lain (interest)
·
Adanya kesiapan pikiran, pengalaman belajar,
aksi-reaksi
·
Adanya kemampuan individu untuk memilih dan
menyaring rangsang yang akan datang
b. Faktor
Eksternal
·
Adanya rangsang yang menyolok, baik ukuran,
warna, maupun bentuknya
·
Adanya rangsang yang baru yang berlawanan dengan
lingkungan
·
Adanya rangsang yang bergerak
(audio-visual-kinestetik)
HUMAN ENCAPSULATION [PART 2: PRESEPSI DAN REPRESENTASI]
Posted on 12:59 AMby Unknown with No comments
Persepsi
adalah sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan
sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Perilaku individu
seringkali didasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan, bukan pada kenyataan
itu sendiri.
Persepsi
merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu suatu stimulus
yang diterima oleh individu melalui alat reseptor yaitu indera. Alat indera
merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya. Persepsi merupakan
stimulus yang diindera oleh individu, diorganisasikan kemudian
diinterpretasikan sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang
diindera.
Gibson,
dkk (1989) dalam buku Organisasi Dan Manajemen Perilaku, Struktur; memberikan
definisi persepsi adalah proses kognitif yang dipergunakan oleh individu untuk
menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya (terhadap obyek). Gibson juga
menjelaskan bahwa persepsi merupakan proses pemberian arti terhadap lingkungan
oleh individu. Oleh karena itu, setiap individu memberikan arti kepada stimulus
secara berbeda meskipun objeknya sama. Cara individu melihat situasi seringkali
lebih penting daripada situasi itu sendiri.
Dari
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian persepsi merupakan suatu
proses penginderaan, stimulus yang diterima oleh individu melalui alat indera
yang kemudian diinterpretasikan sehingga individu dapat memahami dan mengerti
tentang stimulus yang diterimanya tersebut. Proses menginterpretasikan stimulus
ini biasanya dipengaruhi pula oleh pengalaman dan proses belajar individu.
Faktor yang mempengaruhi presepsi
a. Faktor Internal, yaitu faktor-faktor
yang terdapat dalam diri individu, yang mencakup beberapa hal antara lain :
·
Fisiologis. Informasi masuk melalui alat indera,
selanjutnya informasi yang diperoleh ini akan mempengaruhi dan melengkapi usaha
untuk memberikan arti terhadap lingkungan sekitarnya. Kapasitas indera untuk
mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap
lingkungan juga dapat berbeda.
·
Perhatian. Individu memerlukan sejumlah energi
yang dikeluarkan untuk memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas
mental yang ada pada suatu obyek. Energi tiap orang berbeda-beda sehingga
perhatian seseorang terhadap obyek juga berbeda dan hal ini akan mempengaruhi
persepsi terhadap suatu obyek.
·
Minat. Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi
tergantung pada seberapa banyak energi atau perceptual vigilance yang
digerakkan untuk mempersepsi. Perceptual vigilance merupakan kecenderungan
seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan
sebagai minat.
·
Kebutuhan yang searah. Faktor ini dapat dilihat
dari bagaimana kuatnya seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan yang
dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya.
·
Pengalaman dan ingatan. Pengalaman dapat
dikatakan tergantung pada ingatan dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat
kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui suatu rangsang dalam pengertian luas.
·
Suasana hati. Keadaan emosi mempengaruhi
perilaku seseorang, mood ini menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada
waktu yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang dalam menerima, bereaksi dan
mengingat.
b. Faktor Eksternal, merupakan
karakteristik dari linkungan dan obyek-obyek yang terlibat didalamnya.
Elemen-elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang seseorang terhadap dunia
sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana seseoarang merasakannya atau menerimanya.
Sementara itu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah :
·
Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus.
Faktor ini menyatakan bahwa semakin besrnya hubungan suatu obyek, maka semakin
mudah untuk dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu dan dengan
melihat bentuk ukuran suatu obyek individu akan mudah untuk perhatian pada
gilirannya membentuk persepsi.
·
Warna dari obyek-obyek. Obyek-obyek yang
mempunyai cahaya lebih banyak, akan lebih mudah dipahami (to be perceived)
dibandingkan dengan yang sedikit.
·
Keunikan dan kekontrasan stimulus. Stimulus luar
yang penampilannya dengan latarbelakang dan sekelilingnya yang sama sekali di
luar sangkaan individu yang lain akan banyak menarik perhatian.
·
Intensitas dan kekuatan dari stimulus. Stimulus
dari luar akan memberi makna lebih bila lebih sering diperhatikan dibandingkan
dengan yang hanya sekali dilihat. Kekuatan dari stimulus merupakan daya dari
suatu obyek yang bisa mempengaruhi persepsi.
·
Motion atau gerakan. Individu akan banyak
memberikan perhatian terhadap obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan
pandangan dibandingkan obyek yang diam.
Representasi
adalah sebuah cara dimana memaknai apa yang diberikan pada benda yang
digambarkan, konsep lama mengenai representasi ini didasarkan pada premis bahwa
ada sebuah gap representasi yang menjelaskan perbedaan antara makna yang
diberikan oleh representasi dan arti benda yang sebenarnya digambarkan.
Chris Barker menyebutkan bahwa representasi
merupakan kajian utama dalam cultural studies, representasi sendiri dimaknai
sebagai bagaimana dunia dikonstruksikan secara sosial dan disajikan kepada kita
dan oleh kita di dalam pemaknaan tertentu. Cultural studie memfokuskan diri
kepada bagaimana proses pemaknaan representasi itu sendiri.
Representasi
merujuk kepada konstuksi segala bentuk media terutama media massa terhadap
segala aspek realitas atau kenyataan seperti masyarakat, objek, peristiwa,
hingga identitas budaya. Representasi ini bisa berbentuk kata-kata atau tulisan
bahkan juga dapat dilihat dalam bentuk gambar bergerak atau film. Representasi
tidak hanya melibatkan bagaimana identitas budaya disajikan atau
dikonstruksikan di dalam sebuah teks tapi juga dikonstruksikan di dalam proses
produksi dan resepsi oleh masyakarat yang mengkonsumsi nilai-nilai budaya yang
direpresentasikan tadi.
Contoh
dari representasi dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat dari banyak
masyarakat khususnya wanita yang dibanjiri oleh bermacam iklan produk yang
hadir melalui televisi, radio, maupun media lainnya. Bermacam produk saling
berlomba dalam melakukan beragam trik
menawarkan perubahan warna kulit, terstruktur, dan sebagainya itu
membuat wanita atau calon konsumen yang melihat iklan menjadi tertarik untuk
menggunakan produk tersebut, iklan produk tersebut dengan bentuk penawaran yang
sedemikian rupa memberikan pencitraan tersendiri dalam membentuk suatu frame
dalam masyarakat.
HUMAN ENCAPSULATION [PART 1: MEMORI]
Posted on 12:52 AMby Unknown with No comments
Enkapsulasi
mengacu pada keadaan manusia yang sangat yakin tentang kebenaran persepsinya
atas realita yang ada, oleh karena beberapa keterbatasan, dia hanya memiliki
gambaran yang tidak lengkap dan tidak akurat tentang keadaan yang sebenarnya. Ada
diantara kita yang hanya mementingkan diri sendiri dengan pendapat sendiri
(berdasarkan pandangan atau pendapat turunan dengan dasar menghormati leluhur
yang sakral) padahal konsep tersebut tidak berarti apa-apa bagi pengembangan
pendidikan masa depan.
Human Encapsulation
adalah suatu keadaan yang menunjukkan bahwa manusia memiliki keterbatasan, baik
dalam pikiran, perasaan, perbuatan, maupun dalam karya manusia. Manusia mampu
membuat pesawat dengan teknologi yang sangat tinggi, namun tetap saja ada
kerusakan yang terjadi. Hal tersebut menunjukkan bahwa sehebat apapun, manusia
tetap memiliki keterbatasan. Namun dengan keterbatasan yang dimiliki bukanlah
sebuah halangan ataupun alasan bagi manusia untuk berkarya.
1.
MEMORI
Memori adalah sesuatu
dalam diri manusia yang melibatkan fungsi kognisi maupun gerakan otak dalam
proses pengambilan informasi. Memori berhubungan dengan proses mengingat dan
ingatan. Apabila manusia tidak memiliki ingatan maka manusia tersebut telah
melewatkan suatu pembelajaran. Ingatan atau memori sangat berpengaruh terhadap
tahap kesadaran. Manusia yang mengalami ketidaksadaran tidak dapat mengingat
apa yang terjadi pada saat kondisi ketidaksadaran itu. Ingatan adalah pusat
dari segala kehidupan manusia.
Memori
bukan merupakan suatu objek seperti mata, tangan dan organ tubuh lainya. Memori
atau ingatan adalah suatu kemampuan untuk mengingat apa yang telah diketahui.
Seseorang dapat mengingat sesuatu pengalaman yang telah terjadi atau
pengetahuan yang telah dipelajari pada masa lalu. Kegiatan seseorang untuk
memunculkan kembali atau mengingat kembali pengetahuan yang dipelajarinya pada
masa lalu dalam ilmu psikologi disebut recall
memory.
Memori
atau ingatan merupakan fungsi yang terlibat dalam mengenang atau mengalami lagi
pengalaman masa lalu. Ada tiga tahapan utama dalam proses pembentukan dan
pengambilan memori atau ingatan, yaitu:
a.
Encoding:
proses dan penggabungan informasi yang diterima
b.
Penyimpanan:
penciptaan catatan permanen dari informasi yang telah di-encode
c.
Pengambilan:
memanggil kembali informasi yang telah disimpan untuk digunakan dalam suatu
proses atau aktivitas.
Memori atau ingatan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a. Ingatan Eksplisit ( Ingatan Deklaratif)
Dimana ingatan tersebut diperoleh
melalui cara atau usaha tertentu, ingatan ini membutuhkan perhatian, dan
pelatihan. Ingatan ini dibagi menjadi dua, yakni semantic dan episodic. Episodik (ingatan autobiografi), dipicu
oleh tempat dan lingkungan, menyimpan informasi kapan terjadinya peristiwa,
dihubungkan dengan pengalaman pribadi yang dikaitkan dengan penglaman yang lain
yang terkait dengan sensasi. Ingatan
Semantik mencakup struktur yang jelas dan konsisten (hampir semua hal yang
terkait dengan pengetahuan akademis professional, gagasan fakta, pertanyaan
khusus. Sistem ingatan ini merupakan system penampilan ingatan paling lemah
karena baru saja diproses.
b. Ingatan Implicit( Ingata Non Deklaratif)
Secara organis diperoleh secara
otomatis, ingatan ini dibagi menjadi empat, yaitu :
·
Ingatan procedural (ingatan motoris) adalah
ingatan yang disimpan setelah melakukan kegiatan atau keahlian yang dipelajari.
·
Ingatan reflektif ( diperolah melalui S-R)
merupakan ingatan yang mendasar yang membuat manusia dapat bertahan hidup,
dalam ingatan ini mengodekan, menyimpan, dan memanggil kembali informasi secara
langsung dan naluriah. Salah satu fungsi terpenting adalah menjauhkan manusia
dari bahaya, misalnya ketika kita secara reflex menarik tangan dari tungku yang
panas. Ingatan ini terbentuk secara tidak sadar.
·
Ingatan melalui pengkondisian inderawi terkait
dengan perjalanan ingatan menuju otak melalui indera tertentu 9 visual,
auditory, tactil).
·
Ingatan emosional terkait dengan informasi
sebagai akibat dari stimulus inderawi yang sangat kuat, yang terkait dengan
emosi.
Jenis-jenis
ingatan atau memori
a. Memori Sensoris
Memori sensoris adalah ingatan yang
berkaitan dengan penyimpanan informasi sementara yang dibawa oleh pancaindera.
Setiap pancaindera memiliki satu macam memori sensoris. Memori Sensoris adalah
informasi sensoris yang masih tersisa sesaat setelah stimulus diambil. Jadi, di
dalam diri manusia ada beberapa macam sensori-motorik, yaitu sensori-motorik
visual (penglihatan), sensori-motorik audio (pendengaran), dan sebaganya. Memori sensorik cukup pendek, dan biasanya
akan menghilang segera setelah apa yang kita rasakan berakhir. Sebagai contoh,
ketika anda melihat. Kita melihat ratusan hal ketika berjalan selama beberapa
menit. Meskipun perhatian tertuju oleh sesuatu yang anda lihat, itu segera
terlupakan oleh sesuatu yang lain yang menarik perhatian anda di antara sekian
banyak yang ditangkap indera penglihatan.
Keberadaan memori sensoris
mempunyai peran yang penting dalam hidup manusia. Orang harus menaruh perhatian
pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Dengan begitu ada proses
seleksi dari kesadaran, mana informasi yang diperlukan dan mana yang tidak.
b. Memori Jangka Pendek
Memori jangka pendek atau sering
disebut dengan short-term memory atau working memory adalah suatu proses
penyimpanan memori sementara, artinya informasi yang disimpan hanya
dipertahankan selama informasi tersebut masih dibutuhkan. Ingatan jangka pendek
adalah tempat kita menyimpan ingatan yang baru saja kita pikirkan. Ingatan yang
masuk dalam memori sensoris diteruskan kepada ingatan jangka pendek. Ingatan
jangka pendek berlangsung sedikit lebih lama dari memori sensoris, selama anda
menaruh perhatian pada sesuatu, anda dapat mengingatnya dalam ingatan jangka
pendek.
c. Memori Jangka Panjang
Memori jangka panjang (long term
memory) adalah suatu proses memori atau ingatan yang bersifat permanen, artinya
informasi yang disimpan sanggup bertahan dalam waktu yang sangat panjang.
Kapasitas yang dimiliki ingatan jangka panjang ini tidak terbatas. Memori jangka
panjang adalah gundangnya informasi yang dimiliki oleh manusia. Ingatan
jangka panjang berisi informasi dalam
kondisi psikologis masa lampau, yaitu semua informasi yang telah disimpan,
tetapi saat ini tidak sedang dipikirkan.
Informasi yang disimpan dalam ingatan
jangka panjang diduga dapat bertahan dalam waktu yang panjang bahkan selamanya.
Kehilangan ingatan pada ingatan jangka panjang ini hanya dimungkinkan apabila
seseorang mengalami kerusakan fungsional dari sistem ingatannya.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ingatan
Telah disebutkan sebelumnya bahwa diduga ingatan yang telah masuk ke
dalam ingatan jangka panjang akan bertahan lama bahkan selamanya, dan manusia
memiliki kemampuan untuk mengenang atau memanggil kembali ingatan tersebut saat
dibutuhkan. Namun tidak berarti bahwa semua yang pernah dialami itu akan masuk
dan tinggal seluruhnya dalam ingatan. Ada faktor-faktor yang ternyata dapat
mempengaruhi daya kerja ingatan, antara lain :
a. Faktor
usia, ingatan paling tajam pada diri manusia kurang-lebih pada masa
kanak-kanak (10-14 tahun) dan ini berlaku untuk ingatan yang bersifat mekanis
yakni ingatan untuk kesan-kesan penginderaan. Sesudah usia tersebut kemampuan
untuk mencamkan dalam ingatan juga dapat dipertinggi akan tetapi untuk
kesan-kesan yang mengandung pengertian (daya ingatan logis) dan ini berlangsung
antara usia 15-50 tahun.
b.
Kondisi
fisik, misalnya kelelahan, sakit dan kurang tidur dapat menurunkan daya
kerja atau prestasi ingatan.
c. Faktor
emosi. Dalam hal ini seseorang akan mengingat sesuatu lebih baik, apabila
peristiwa-peristiwa itu menyentuh perasaan-perasaan, sedangkan kejadian yang
tidak menyentuh emosi seringkali diabaikan.
d. Minat dan
Motivasi. Dalam pengalaman sehari-hari, kita sering mengamati remaja yang
tidak lupa suatu lirik lagu walaupun dalam bahasa asing. Orang-orang yang
sering bepergian, mempunyai ingatan tentang ilmu bumi yang jauh lebih baik
daripada yang tidak pernah kemana-mana. Artinya disini seseorang yang mengingat
segala sesuatu tentang hal yang disukainya jauh lebih baik dari pada hal yang
tidak disukainya. Jelaslah minat sangat meningkatkan motivasi dan pada
gilirannya akan meningkatkan daya ingat. Menurut Kurt Lewin (1890-1947),
seorang psikolog jerman, minat dan motivasi berarti konsentrasi energi (forces)
pada sektor (region) tertentu dalam kesadaran. Konsentrasi energi inilah yang
menyebabkan suatu hal tidak begitu saja dilupakan.
Subscribe to:
Posts (Atom)



